5 Alasan Untuk Berwisata Ke Kota Medan

Wahyu Raja Butar-Butar Reply 05:55

Terkaget-kaget mendengar orang Medan yang berbicara seperti teriak marah-marah atau ngajak berantem?pusing melihat arus lalu lintas Kota Medan yang seperti arena bom bom car dan orang-orang yang menganggap lampu merah sebagai lampu taman? Dibalik itu, Kota Medan menyimpan  sejuta pesona dan alasan untuk dikunjungi. Lima diantaranya adalah :

1. Pusat Kuliner
Medan is a city where the word diet does never exist!! Lupakan segala pantangan, diet atau program pengurangan porsi makan.  Menjajal kuliner adalah must to do di kota ini. Kultur kuliner di Medan yang kental menyebabkan makan tak pernah mengenal kata dosa (kecuali yang haram bagi agama tertentu). Pepatah Melayu, suku asli yang mendiami kota ini menyebutkan “biar rumah rubuh asal makan gulai lemak” menunjukkan kesenangan akan makan, yang menjadi tradisi penduduk kota ini. Makan adalah elemen penting untuk mempererat hubungan kekeluargaan, sosial maupun bisnis. Dampaknya adalah, makan (enak) menjadi momen yang sangat dinikmati. Menjamurnya bisnis makanan bukan hanya untuk mengakomodir kebutuhan wisatawan tapi memfasilitasi hasrat dan gairah makan penduduknya sendiri.
Menikmati kuliner kota Medan punya sensasi lebih di malam hari. Seperti menikmati seafood segar di daerah Belawan dengan pemandangan ke laut. Harus sedikit pasrah ketika tersesat di belantara restoran, kafe dan warung aneka warna dengan aneka makanan mulai dari kerang rebus, sate kerang, lontong medan malam, kolak durian, hingga yang “serius” seperti bebek, dimsum, mie rebus, martabak mesir  dan masih banyak lagi di daerah RingRoad, Jalan Semarang, Jalan Pagaruyung di Kampung Keling atau Merdeka Walk. Menikmati suasana di semua kawasan ini, ibarat menonton film besutan sutradara kenamaaan Wong Kar Wai, penuh warna, dinamika, dan rasa.
Salah satu gerai yang bisa dicoba di Merdeka Walk adalah Nelayan atau Jala-jala yang juga ada di Mall-mall lain (Sun Plaza, Plaza Medan Fair, Swiss-Bel Hotel). Menu andalannya adalah dim sum, yang kekuatannya sebenarnya terletak pada sausnya, kwitiau siram, serta hidangan penutup pancake durian. Khusus penikmat pancake durian, yang paling dahsyat menurut saya adalah Mei Cin Pancake Durian (di Jalan Ketapang 3E). Bisa beli untuk dimakan langsung atau dibawa sebagai oleh-oleh. Mereka menyiapkan packaging khusus untuk dibawa sebagai oleh-oleh. Jadi tidak usah khawatir aroma duriannya kemana-mana.
Pilihan pagi dan siang hari bisa dimulai dari kawasan Kesawan, salah satu daerah bangunan-bangunan tua. Di mana ada Soto Udang Kesawan di Jalan Ahmad Yani atau cabangnya di Jalan Sei Batang Hari. Ingin kembali ke masa lalu ada restoran Tip Top. Restoran ini menjadi destinasi nostalgila bagi wisatawan Belanda karena sudah berdiri sejak 1934. Es krim soda andalan juga terdapat di kawasan ini.
Soto_Udang_Khas_Medan.jpg  Soto Udang Khas Medan 
Mau mencoba Mie Rebus Medan yang jelas berbeda dengan mie rebus biasa di kota lain di Indonesia ada di setiap sudut kota, tapi yang cihuy ada di Sei Sikambing ruko samping Sekolah Panca Budi. Masih penasaran dengan soto, ada Soto Sinar Pagi yang melegenda. Jangan datang terlalu siang karena bisa kehabisan. Kalau di Jakarta ada Es krim Ragusa di Medan ada Es krim Ria. Es krim jadul ini masih mantap dinikmati dimasa kini. Atau kalau berani,coba minum es campur khas Medan yang terdiri dari tape ketan hitam, tape singkong, cendol, delima, lengkong (cincau) hitam, disiram santan dan gula merah. Kenapa saya bilang berani, karena kalau minum es campur dan makannya Mie Sop khas Medan, suami di sebelah juga tidak kelihatan ;)
Mie Aceh yang enak justru bukan di Aceh, melainkan ada di kota ini. Mie Aceh Titi Bobrok dengan menu andalan Mie Aceh kepiting tidak boleh dilewatkan. Kepitingnya dihidangkan satu ekor besar diletakkan di atas mie. Masih ingin menambah dosa kalori, ada sop sum-sum  yang masih tetanggaan dengan Mie Aceh di Titi Bobrok. Sop sum-sum yang lebih nampar ada di depan supermarket Berastagi di Jalan Gatot Subroto bernama sop sumsum Aceh.
Jangan menarik nafas dulu…karena saya belum selesai dengan daftar ini. Untuk oleh-oleh, mungkin bolu gulung Meranti sudah menjadi ikon. Tapi merk ini tidak sendiri. Ada Clover, Tahiti dan Majestik yang memang punya penggemar masing-masing. Sama dengan bika ambon Ati, yang merupakan bika ambon pertama di Kota Medan, sebelum akhirnya Zulaikha datang dengan berbagai pilihan rasa dan tidak terlalu eneg. Kalau ke Medan, saya tidak pernah lupa beli aneka snack dan kacang dari Asli atau A1 yang tokonya di depan Hotel Swiss-Bel. Makanan ini cabang dari toko di Kota Pematang Siantar. Serta sirup kedondong, buah ketna dan mangga muda, serta manisan buah yang segar di Jalan Majapahit Gang Pasir. Atau manisan jambu biji (di Medan namanya jambu klutuk) dan sirup terong belanda serta sirup markisa. Ingin bawa buah durian dari Medan? bisaaaa…tinggal pergi ke kawasan Glugur By Pass dan Jalan Sei Sikambing – Sunggal. Mereka menyediakan packaging khusus untuk buah durian.  Untuk penggemar durian, ada Durian House di Jalan Sekip. Tapi untuk pancake durian, sampai saat ini saya masih rekomendasi Mei-Cin Durian. Ok. Sebaiknya saya berhenti dengan list makanan ini karena saya mulai lapar.
2. Kaya Budaya dan Bangunan Bersejarah
Jangan bayangkan kota Medan dipenuhi orang-orang  berperangai kasar dan berbicara dengan logat batak seperti yang dicitrakan di televisi Indonesia. Medan dulunya adalah melting pot, yang mempengaruhi kebudayaan masyarakatnya sampai saat ini. Di kota ini penduduk asli adalah melayu deli berbaur dengan Suku Karo, Jawa, keturunan Cina, Minang, warga keturunan India, Batak, dan Aceh. Akhirnya kebudayaan yang ada adalah budaya orang Medan.
Salah_satu_gedung_tua_yang_menjadi_kantor_di_Kesawan.jpg Salah satu gedung tua yang menjadi kantor di Kesawan
Untuk pencinta bangunan tua dan seni, Medan sangat prospektif dari sisi ini. Bangunan tua yang memenuhi bagian pusat kota masih dapat dilihat hingga saat ini. Walaupun beberapa dalam keadaan tidak terawat dan membuat hati miris, bangunan  tua ini masih menyisakan sisi menarik. Sebagian berfungis sebagai rumah tinggal dan ruang perekonomian. Pada beberapa gedung tua utama di kota ini masih terdapat angka tahun (Anno >> kemudian angka tahun) yang menunjukkan tahun berapa bangunan tersebut berdiri, seperti yang terdapat pada bangunan-bangunan di kota-kota di Eropa Barat.
Kawasan Kesawan sampai saat ini masih menyisakan bangunan tua yang sebagian besar masih difungsikan untuk kegiatan ekonomi seperti kantor, warung, restoran, butik dan toko olahraga. Eksplorasi bangunan tua diantaranya adalah seperti rumah tua Tjong A fie (Kesawan), Istana Maimun (Jalan Brigjend Katamso), serta bangunan ibadah seperti Mesjid Raya Al-Mashun, Klenteng Gunung Timur (Jalan Hang Tuah), Kuil Shri Mariamman (Kampung Keling), serta segelintir rumah panggung asli Melayu Deli yang masih tersisa di Jalan Mantri.
Kemegahan_Interior_Istana_Maimun.jpg Kemegahan interior Istana Maimun
 3. Gerbang Menuju Natural Wonders yang Diakui Dunia
Medan adalah gerbang menuju natural wonders, destinasi wisata alam di propinsi yang sama bahkan ke propinsi lain. Diantaranya Danau Toba, danau vulkanis terbesar di dunia ini dapat dicapai dari Medan dengan mobil atau angkutan umum selama 3,5 – 4 jam. Danau yang terbentuk akibat letusan terdahsyat sepanjang sejarah manusia ini masih menyimpan misteri dan temuan-temuan yang ingin diungkap oleh para peneliti.
Danau Toba masih menjadi tujuan weekend favorit dari kota-kota terdekat untuk menikmati pemandangan pegunungan dan danau, olahraga air, atau piknik. Di beberapa bagian masih terdapat hutan pinus alami.
Selain itu, ada Berastagi, kota wisata yang dapat ditempuh selama 2 jam dari Kota Medan. Menurut  Dekan Fak. Teknik USU Dr. Armandsyah Ginting (Personal Comm., 2011) yang asli Karo, Berastagi dulunya adalah kota tempat tinggal favorit warga Belanda karena udaranya yang sejuk segar dan menjadi lokasi penyembuhan berbagai penyakit termasuk penyakit pernafasan. Kegiatan lain adalah belanja di pasar buah, berkuda, ngopi, dan berwisata kuliner.
Natural wonders yang sebenarnya di daerah ini adalah Taman Nasional Gunung Leuser, kawasan seluas 17 kali wilayah DKI Jakarta ini menganugerahkan Bukit Lawang (2 jam dari Medan) untuk melihat Orangutan, tubing dan berenang, serta Tangkahan (3-4 jam dari Medan) untuk melihat gajah, memandikan gajah, atau trekking dengan gajah di hutan yang masih alami selain juga melihat satwa lain. Ingin tahu asiknya bertemu Orangutan Bukit Lawang dan gajah di Tangkahan? Jangan lupa baca buku terbaru saya ya :D The Green Traveler: Catatan Perjalanan Ekowisata Keliling Indonesia *promosi mode on*. Taman nasional ini juga memberikan derasnya aliran Sungai Binge dan Sungai Wampu menjadi tempat rafting yang super heboh.
Melihat_Orangutan_di_Bukit_Lawang.jpg Melihat Orangutan di Bukit Lawang
Trekking_Gajah_di_Tangkahan.jpg Trekking gajah di Tangkahan
4. Unique Shopping
Tak percaya Medan kota shopping? Kalau mall, sama saja dengan kota-kota lain di Indonesia. Tapi di butik-butik dan toko-tokonya, membanjir barang-barang seperti pakaian, sepatu, aksesoris, kacamata, dan banyak lagi dari Hongkong, Korea, Cina yang juga bersaing dengan produk dalam negeri. Mulai dari kelas mall di Sun Plaza hingga kelas pasar di Pasar Petisah (di Medan pasar disebut pajak) serta toko-toko di daerah kota tua di Medan.
5. Punya Banyak “Tetangga”
Medan tidak sekedar Untuk rute domestik, dari Medan dapat menuju Pulau Nias, Pekanbaru, Padang dan Bukit Tinggi, Banda Aceh, dan banyak kota lainnya.  Medan juga dipilih menjadi hub bagi kota lain-lain di luar negeri. Dari Medan sangat mudah menuju Penang, Kuala Lumpur, Singapura, Puket atau Bangkok. Jadi setelah berada di Medan, kamu bisa dengan mudah melanjutkan perjalanan ke daerah lain di Indonesia atau beberapa negara tetangga.  
Bagaimana, kamu setuju dengan saya ?
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Post a Comment

Search

Google+ Followers

Popular Posts

Translate